Oleh: suaramanji | November 26, 2010

KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM

1. Bulan Allah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda : Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah al-Muharrom (HR. Muslim).

2. Bulan Suci

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ .. (التوبة:36)

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, (at-Taubah:36)

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Satu tahun ada 12 bulan, empat bulan di antaranya adalah bulan suci, tiga bulan (suci tersebut) berturut-turut yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram, dan Rajab .. yang terletak antara Jumada (Tsaniyah) dengan Sya’ban (HR al-Bukhari)

وَأَشْهُرِ الْحُرُمِ رَجَبٌ وَذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda : Bulan-bulan suci itu adalah Rajab, Dzul Qo’dah, Dzulhijjah dan Muharrom (HR. At-Tirmidzi)

3. Bulan Taubat

يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّ شَهْرٍ تَأْمُرُنِي أَنْ أَصُومَ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ قَالَ إِنْ كُنْتَ صَائِمًا بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَصُمِ الْمُحَرَّمَ فَإِنَّهُ شَهْرُ اللهِ فِيهِ يَوْمٌ تَابَ فِيهِ عَلَى قَوْمٍ وَيَتُوبُ فِيهِ عَلَى قَوْمٍ آخَرِينَ

Dari Ali bahwa Rasulullah SAW bersabda : Muharram sesungguhnya adalah bulan Allah yang di dalamnya ada satu hari yang Allah memberi taubat atas suatu kaum dan senantiasa memberi taubat atas kaum yang lain (HR. At-Tirmidzi)

4. Bulan Puasa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ قَالَ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ قَالَ فَأَيُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ قَالَ شَهْرُ اللهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ

Abu Hurairah berkata bahwa datang seseorang kepada Nabi SAW bertanya : Puasa apa yang laing utama setelah bulan Ramadhan ? Beliau menjawab; Bulan Allah yang bernama Muharram (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).


5. Pahala amal ibadah dilipagandakan

Allah SWT berfirman : Maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu (QS. At-Taubah : 36).

PERISTIWA YANG TERJADI DI HARI ‘ASYURA

1. Mendaratnya kapal Nabi Nuh AS
2. Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Fir’aun.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُنَاسٍ مِنَ الْيَهُودِ قَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا مِنَ الصَّوْمِ قَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي نَجَّى اللهُ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنَ الْغَرَقِ وَغَرَّقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِيِّ فَصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَمَرَ أَصْحَابَهُ بِالصَّوْمِ

Dari Abu Hurairah Ra berkata : Nabi SAW melewati sekelompok orang yahudi yang berpuasa hari ’Asyura, kemudian beliau bertanya : puasa apa ini ? ” mereka menjawab pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan Bani Isroil dari tenggelam dan fir’aun tenggelam pada hari ini. Dan pada hari ini, hari mendaratnya kapal nabi Nuh di atas gunung al-Judi lalu Nuh dan Musa berpuasa sebagai wujud syukur kepada Allah Ta’ala, lalu beliau bersabda : Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian, kemudian beliau memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa.(HR. Ahmad)

3. Tanggal 10 Muharram 61 H adalah hari terbunuhnya Abu Abdillah al-Husain bin Ali di padang Karbala

Hari ‘Asyuro dalam lintas sejarah

Asy-syura’ (العشوراء) berasal dari bahasa arab yang asal katanya  al-‘asyir(العشر ) artinya kesepuluh. Hal itu di karenakan jutuh pada hari kesepuluh di bulan muharrom. Sejarah bangsa Arab sebelum Islam telah biasa menghormati bulan Muharram, dan lebih khusus lagi tanggal yang ke sepuluh. Kaum Jahiliyah dalam menghormati hari Asyura ini pun juga melaksanakan puasa, sebagaimana disebutkan bahwa Aisyah telah meriwayatkan sebuah berita,

إن أهل الجاهلية كانوا يصومونه

Dari Aisyah ra, ia berkata, sesungguhnya kaum jahiliyah dahulu melaksanakan puasa pada hari Asyura.

Bahkan sebelum diwajibkannya puasa pada bulan Ramadlan telah disebutkan di dalam beberapa riwayat bahwa Rasulullah saw telah biasa melakukan puasa Asyura.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الْكَعْبَةُ فَلَمَّا فَرَضَ اللَّهُ رَمَضَانَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ

Dari aisyah ra, ia berkata, “Mereka berpuasa pada hari Asyura sebelum diwajibkan puasa bulan Ramadlan. Hari itu adalah hari diselamatkannya Ka’bah. Ketika Allah mewajibkan puasa pada bulan Ramadlan rasulullah saw bersabda, “Siapa yang mau berpuasa silakan, dan siapa yang mau meninggalkannya silakan” (HR. al-Bukhari)

Ketika berada di Madinah itulah, orang-orang Yahudi bermacam-macam cara dalam menghadapi hari Asyura. Ada di antara mereka yang berpuasa pada hari itu, dan ada juga menjadikan hari Asyura sebagai hari raya. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى ، قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ .

Nabi saw datang di Madinah lalu beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka beliau bertanya, “Ada apa ini? Para shahabat menjawab, “Ini adalah hari baik, sebab hari ini Allah menyelamatkan Bani Israel dari kejaran musuh-musuhnya, maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini”. Nabi bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian, maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan (para shahabat) untuk berpuasa (HR. al-Bukhari)

Tetapi Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan bahwa kaum Yahudi menjadikan hari Asyura ini sebagai hari Raya.

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَعُدُّهُ الْيَهُودُ عِيدًا

Hari Asyura oleh kaum Yahudi dijadikan hari raya (HR. al-Bukhari)

Pada hari raya itu, umumnya manusia mengisinya dengan bersenang-senang dan bergembira. Di dalam Islam, pada waktu hari raya diharamkan berpuasa. Karena itulah Rasulullah memilih untuk berpuasa agar berbeda sikap dengan kaum Yahudi, yang menjadikan hari itu sebagai hari raya.

Keutamaan hari ‘Asyuro

Hari ‘Asyuro memiliki keutamaan yang besar dan merupakan hari suci sejak dahulu kala, karenanya hari itu dijadikan hari puasa oleh :

1. Para Nabi

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَمَرَ أَصْحَابَهُ بِالصَّوْمِ (رواه البخاري)

2. Kaum Yahudi dan mengagungkannya serta menjadikannya hari raya

كَانَ أَهْلُ خَيْبَرَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ يَتَّخِذُونَهُ عِيدًا وَيُلْبِسُونَ نِسَاءَهُمْ فِيهِ حُلِيَّهُمْ وَشَارَتَهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصُومُوهُ أَنْتُمْ (رواه مسلم)

Penduduk Khaibar berpuasa pada hari ‘asyuro serta dijadikan sebagai hari raya sementara para wanitanya memakai pakaian dan perhiasan yang bagus, maka Rasulullah bersabda berpuasalah kalian.

3. Kaum Nasrani mengagungkannya

إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى (رواه مسلم)

Sesungguhnya hari itu orang-orang Yahudi dan Nasrani mengagungkannya.

4. Masyarakat Quraisy

عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ (رواه البخاري و مسلم)

Berpuasa ’Asyuro

1. Berpuasa selama tiga hari, tgl 9, 10, dan 11 Muharram

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا (رواه أحمد)

2. Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram

Mayoritas hadits menunjukkan cara ini :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا يَقُولُا حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه مسلم)

Rasulullah berpuasa pada hari ’Asyuro dan memerintahkan berpuasa. Para sahabat berkata : Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh orang Yahudi. Maka beliau bersabda : Di tahun depan Insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9. Tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah telah wafat. (HR. Muslim). Dalam riwayat lain : Jika aku masih hidup pada tahun depan sungguh aku akan puasa pada hari ke sembilan.

3. Berpuasa pada 10 dan 11 Muharram

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا (رواه أحمد)

Berpuasalah pada hari ’Asyuro dan selisihilah orang yahudi, puasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya. (HR. Ahmad)

4. Berpuasa pada tanggal 10 saja

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً

Berpuasa pada hari ’Asyuro menghapus kesalahan satu tahun yang telah lewat. (HR. Ahmad).

Hal-hal yang tidak bersumber dari Rasulullah :

1. Menambah belanja dapur.

Banyak riwayat yang mengatakan :”Barangsiapa yang meluaskan (nafkah) kepada keluarganya pada hari Asyura’, maka Allah akan melapangkan (rizkinya) selama setahun itu.” (HR. At-Thabraniy, Al-Baihaqi dan Ibnu Abdil Barr). Asy-Syabaniy berkata: semua jalurnya lemah,

2. Memakai celak (sifat mata)

3. Mandi

Mereka meriwayatkan sebuah hadits: “Barangsiapa yang memakai celak pada hari Asyura’, maka ia tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu. Dan barangsiapa mandi pada hari Asyura’, ia tidak akan sakit selama tahun itu.” (Hadits ini palsu menurut As-Sakhawi, Mulla Ali Qari dan Al-Hakim) (Al-Ibda’, hal. 150-151)

4. Mewarnai kuku.

5. Bersalam-salaman.

Imam As-Suyuthi mengatakan : ” Semua perkara ini (no.2-5) adalah bid’ah munkarah, dasarnya adalah hadits palsu atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .” (Al-Amru bil Ittiba’ , hal.88)

6. Mengusap-usap kepala anak yatim.

Mereka tidak segan-segan membuat hadits palsu dengan sanad dari Ibnu Abbas yang mirip dengan haditsnya orang Syi’ah yang berbunyi: “Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’ dari bulan Muharram, maka Allah memberinya (pahala) sepuluh ribu malaikat, sepuluh ribu haji dan umrah dan sepuluh ribu orang mati syahid. Dan barangsiapa memberi buka seorang mukmin pada malam Asyura’, maka seakan-akan seluruh umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka di rumahnya sampai kenyang.” (Hadits palsu dinyatakan oleh imam As-Suyuthi dan Asy-Syaukani, no. 34, lihat Tanbihul Ghafilin, 1/366).

7. Memberi makan seorang mukmin di malam Asyura’.

seperti yang tercantum dalam kumpulan do’a dan Majmu’ Syarif yang berisi minta panjang umur, kehidupan yang baik dan khusnul khotimah. Begitu pula keyakinan mereka bahwa siapa yang membaca do’a Asyura’ tidak akan meninggal pada tahun tersebut adalah bid’ah yang jahat. (As-Sunan wal Mubtada’at, Muhammad Asy-Syuqairi, hal.134)

8. Membaca do’a Asyura’

9. Membaca “Hasbiyallah wani’mal wakil”

10.  Shalat Asyura’.

Haditsnya adalah palsu, seperti yang disebutkan oleh As-Suyuthi di dalam Al-La’ali Al-Mashnu’ah (As-Sunan wal Mubtada’at, 134).


Responses

  1. adhiiim….

  2. salam kenal, pak!
    baru tahu kalau pak Anis juga blogger…
    sepertinya harus diusulkan untuk menjadi pengisi tetap di http://masjidbaiturrahman.com :-D

    • Alhamdulillah…ya sambil belajar. Karena media untuk dakwah begitu luas. coba nanti tak brows ke http://masjidbaiturrahman.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: